Maria and Her Alabaster Jar

 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

– Mark 14:3

Teman-teman pasti pernah denger atau baca cerita di atas kan? Tentang perempuan yang pecahin minyak berharganya dia, terus dia mengurapi Yesus dengan minyak itu, lalu dia juga membasuh kaki Tuhan Yesus pake rambut, air mata dan minyaknya dia itu.

Tau ga siapa perempuan itu? Dia itu Maria, saudaranya Martha dan Lazarus. Maria yang duduk di kaki Tuhan Yesus, dengerin ceritanya Tuhan, sedangkan Martha, saudaranya, sibuk siapin makanan. Maria, yang saudaraan sama Lazarus, terus Lazarus sakit dan mati kemudian dibangkitkan kembali sama Tuhan. Ya, Maria yang itu.

Nah beberapa hari yang lalu tuh, entah kenapa aku bisa baca kisah tentang ini berkali-kali dalam media yang berbeda sampe akhirnya aku cari lebih lanjut tentang cerita ini. Sebenernya banyak banget yang bisa dipelajari dari sikap Maria ini, tapi aku mau cerita tentang beberapa hal aja.

* * *

Minyak narwastu itu sejenis minyak wangi yang harganya mahal banget. Menurut Yudas, harga minyak itu 300 dinar (ayat 5). Kalau misalnya upah pekerja saat itu 1 dinar per hari, berarti harga minyak itu hampir sama dengan gaji 1 tahun!

Liat lagi ke ayat 3. Disana ditulis, buli-bulinya dipecahin dan isinya dicurahkan ke atas kepala Yesus. Bukan cuma setetes atau 2 tetes, tapi dicurahkan! Dia tuang semua minyaknya ke atas kepalanya Tuhan Yesus lho. Kalau dikaitkan sama keadaan kita sekarang, Maria itu kasih semua gajinya selama 1 tahun ke Tuhan. Gaji 1 tahun pure, tanpa dipotong ini itu dulu sama dia. Dia kasih semua yang dia punya ke Tuhan.

Lalu di tradisi Yahudi, sebenarnya setiap perempuan Yahudi punya satu buli-buli yang biasanya diisi dengan minyak narwastu. Minyak ini nantinya dipakai untuk meminyaki kaki suaminya pada hari pernikahan sebagai tanda cinta dan kesetiaan pada suaminya itu. Si Maria ini malah pake minyaknya itu buat Tuhan. Berarti dia uda ga punya minyak lagi, terus entar pas nikah, dia kasih apa dong buat suaminya? Bagus kalau dia ketemu suami yang bisa ngertiin keadaan dia, suami yang bilang, “Oh minyaknya uda dipake buat Tuhan Yesus ya? Ya uda gapapa. Ga ada minyaknya juga gapapa kok.” Kalau dia malah ketemu suami yang masih berpegang sama tradisi, terus dia bilang “Ga ada minyak ga jadi nikah. Buktinya apa kalau kamu itu cinta dan setia sama aku? Minyak yang harusnya buat aku aja uda kamu pake buat orang laen.” Nah lhoo.

Di sini kita bisa liat kalau Maria juga menyerahkan masa depannya dia ke Tuhan. Dia ga khawatir gimana keadaan dia ke depannya entar. Mau nikah atau ngga, ga masalah. Uang tabungannya dia habis juga ga masalah. Toh uang bisa dicari lagi. Soal pasangan hidup? Tuhan bisa kasih dia pasangan hidup yang luar biasa kok.

* * *

Cerita tentang Maria ini buat aku mikir, apakah aku bisa kaya dia? Apakah aku bisa kasih semua yang aku punya sekarang ke Tuhan? Apakah aku bisa menyerahkan masa depanku ke tangan Tuhan sepenuhnya?

Tuhan aja kasih nyawanya buat kita. Apa yang bisa kita kasih buat Tuhan?
Happy Easter!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s