Chaotic Lunch Break

Hari ini hujan lagi. Hujan cukup deras yang menyebabkan saya dan teman-teman kantor akhirnya memilih untuk tidak keluar gedung dan makan di salah satu restoran Chinese – versi korea di basement gedung kantor. Dulu pernah makan disana sekali dan kami semua sama-sama tau kalau service di restoran itu buruk meskipun makanannya cukup lumayan rasanya dan harganya juga tidak terlalu mahal. Karena restoran yang lain penuh, akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran cina itu.

Ketika kami masuk ke restorannya, semua meja masih penuh dengan piring kotor dan akhirnya kami memutuskan untuk duduk di salah 1 meja. Ada 6 orang yang pergi bareng buat makan siang dan kami akhirnya duduk terpisah, terhalang 1 meja orang lain. Pas kami minta ajummanya buat angkat piring-piring kotor, sang ajumma malah beresin meja lain dulu yang jelas-jelas kosong, ga ada orangnya, daripada beresin meja di depan kami, yang jelas-jelas ada kostumer duduk.

Setelah meja kami dibersihkan, kami pun memesan menu. 3 porsi nasi goreng. Beberapa saat kemudian, datang 1 porsi ke meja kami. Kami pun menunggu 2 porsi lainnya. Tidak lama kemudian, muncul pesanan untuk meja rekan kami yang berjarak 2 meja dari posisi kami duduk. Hebatnya, pesanan mereka sudah muncul tapi di mejanya masih banyak piring-piring kotor yang masih belum dibersihin. Makanan pesanan mereka akhirnya ditaruh sebentar di lahan yang kosong (fyi, mejanya untuk 4 orang tapi yang duduk cuma 3 orang).

Selang beberapa waktu, makanan pesanan kami masih juga belum datang. Pas ditanya ke ajummanya, dia bilang lagi ke kokinya kalau ada pesanan nasi goreng 2 porsi. Langsung deh orang yang duduk bareng sama aku marah-marah. Lha jelas-jelas kami pesan menu yang sama, terus munculnya 1-1, bahkan kami juga curiga kalau pesanan kami yang 2 porsi lagi itu baru mau dibuat sama kokinya.

Ga lama kemudian, muncul lah pesanan kami. Tapi yang datang cuma 1 porsi doang, beserta dengan soupnya. Nah teman kami, yang pesanannya uda muncul dari tadi, akhirnya minta soup jatahnya dia juga donk, ajummanya suruh tunggu sebentar. Ditunggu-tunggu, soup dan 1 porsi nasi goreng pesanan meja kami ga dateng-dateng. Akhirnya kami tanya lagi dong. Dibilang iya-iya doang terus kami juga minta supaya meja rekan kami dibersihin soalnya dari tadi pesanan mereka udah dateng, bahkan sampe sekarang mejanya masih belum dibersihin dari piring-piring kotor. Si ajumma lalu menjawab, “Iya. Soupnya akan segera diantar ke meja.” Salah satu rekan kami bilang lagi, “Itu meja sebelah sana tolong dibersihin.” Terus ajummanya tanya, “Kalian 1 group?” Rekan saya bilang ,”Iya. Lagipula kalau kami bukan temenan, yang meja disana ga perlu diberesin juga?” Si ajumma bilang “kalian kan tau sendiri, kami juga lagi sibuk.” sambil beresin mejanya.

Beberapa saat kemudian, 1 porsi nasi goreng pesanan meja kami masih belum keluar juga dan rekanku masih akhirnya tanya lagi kan. Ditambah dengan protes dari orang lain yang masih makanannya masih belum keluar juga, kayanya ajumma disana uda mulai pusing deh. Kasian juga sih liatnya tapi harusnya mereka siap donk. Buka restoran di daerah perkantoran, uda pasti kalau pas jamnya makan siang rame banget.

Pesanan kami akhirnya muncul. Yeay! Akhirnya bisa makan dengan tenang tanpa harus memarah-marahi ajumma lagi..sampai seorang rekanku menemukan kulit telur di nasi gorengnya. Dipanggil lagi deh ajummanya. Ajummanya nawarin supaya makanannya diganti, tapi karena kami tau kalau makanannya diganti nunggunya bakal lama lagi, akhirnya kami minta supaya 1 porsi nasi itu ga usah dibayar.

 

Sambil menghabiskan makan siang kami, keadaan restoranpun sepertinya tidak membaik. Orang lain yang duduk di meja sebelah kami ternyata mengalami nasib yang lebih parah. Ada 4 orang yang memesan menu berbeda dan 1 orang diantaranya, masih belum keluar pesanannya bahkan sampai teman-temannya uda selesai makan. Akhirnya mereka meng-cancel 1 menu.

Terus di ujung restorannya, ajumma itu panik, bilang nasinya abis. Orang-orang yang makan semeja denganku cuma bisa menghela nafas. Restoran kok bisa keabisan nasi. Udah gitu, masak nasinya pake rice cooker ukuran family, yang biasa dipake di rumah bukan pake ukuran jumbo yang emang buat berpuluh-puluh orang.

Pas mau bayar makanan kami, si kasirnya bilang, “Totalnya 10 ribu.” Terus kami bingung kan, “lho bukannya 12 ribu ya?” Kasirnya ngecek lagi daftar harganya terus baru bilang, “Iya deh, 12 ribu.” Astagaaa.

Abis keluar dari restoran itu, kami semua setuju untuk tidak akan makan di restoran itu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s