Final Call? No, It’s More Than That

Hari ini kami berangkat ke Bali! Ini pertama kalinya aku naik pesawat domestik! Agak norak jadinya. Haha. Tapi gara-gara itu dan beberapa alasan lainnya, kami hampir ditinggal pesawat! Bahkan udah bukan final call lagi. Begini ceritanya.

Pesawat kami akan terbang pukul 13.15. Kami ber6 (aku, Sali, dan 1 keluarga dari Korea) sudah duduk manis di depan gate sejak setengah jam sebelumnya. Tapi entah kenapa, sampai pukul 13.00 masih tidak ada pengumuman untuk boarding.

Di papan pengumuman, ada tulisan Schedule 14.00, Remarks STD 13.15. Aku dan Sali, dengan ragu-ragu menyimpulkan bahwa pesawatnya diundur sampai pukul 14.00. (Padahal justru aslinya 14.00 terus dimajuin jadi 13.15. Aku udah dikasih tau beberapa hari sebelumnya, tapi aku sendiri bahkan lupa). Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke ruangan sebelumnya, daerah food court, untuk makan siang.

Setelah memesan makanan, aku ingin ke toilet sebentar. Dalam perjalanan ke toilet, yang ternyata harus keluar dari daerah food court itu, aku mendengar pengumuman kalau pesawat yang akan kunaiki sudah boarding. Kami sudah boleh masuk pesawat. Setengah bingung, aku menghubungi Sali yang masih ada di food court. Tapi Sali bilang kalau ga ada pengumuman sama sekali. Aku pun tanya ke petugas tempat cek xray. Dia bilang harus cek di gatenya, sedangkan aku ga bisa masuk karena semua boarding pass ada di Sali.

Aku pun kembali ke food court lalu minta tolong Sali untuk mengecek ke gate. Sali pun pergi. Tidak lama kemudian, Sali menelpon. Dengan suara terengah-engah, dia bilang “Pel, bener itu pesawatnya. Kita mesti naek sekarang.” Saat itu waktu menunjukan pukul 13.13. Aku pun mulai panik. Mencoba untuk mencancel pesanan tapi sayangnya udah jadi. Jadi aku minta supaya makanan itu dibungkus.

Sali datang, beres2 lalu kami siap berlari menuju pesawat kami, didampingi oleh seorang petugas yang udah marah-marah. Itu udah bukan final call. Bahkan udah lewat final call. Petugas itu sibuk berlari sambil ngomong di walkie-talkienya, bilang pintu pesawat jangan ditutup dulu karena masih ada 6 orang yang belum masuk.

Ini nih bagian serunya. Pas lagi asik2 lari, tiba2 sang ibu (orang Korea itu) bilang kalau angklung dan barang belanjaannya tadi ketinggalan. Panik. Kemudian Sali, mengambil suatu tindakan yang heroik. Dia ambil boarding passnya dia, terus kasih sisanya ke aku. “Pel, gw aja yang ambil. Lu duluan gih.” Kemudian dia lari lagi keluar untuk mengambil barang yang ketinggalan.

Kami melanjutkan aksi lari-larian di airport, diiringin dengan tatapan orang-orang sekitar. Petugas yang ikut berlari bersama kami, dengan keselnya bilang “Saya ga tau ya kalau teman yang tadi bisa naek pesawat atau ngga. Saya ga tanggung jawab kalau dia sampai ketinggalan pesawat”.

Sesaat sebelum naik ke pesawat, aku masih sibuk bilang ke pramugari yang jaga pintunya kalau masih ada 1 orang yang belum naik. Kami disuruh duduk duluan. Kami pun duduk, sambil berharap supaya Sali bisa cepat datang. Sangat amat ga lucu kalau dia sampai ketinggalan pesawat.

Tak lama kemudian, Sali pun datang. Kami semua bisa menarik napas lega. Sali duduk dan pramugari pun langsung mulai memperagakan cara memasang sabuk pengaman dan safety tools lainnya. Saat itu pesawat sudah telat 5 menit dari waktu keberangkatan yang seharusnya.

Setelah pesawat kami berada di udara, Sali baru bisa ngomong lagi. Dia bilang kalau pintu pesawat udah ditutup setengah, Cuma disisain buat dia masuk doank. Dan dia tadi juga sempet salah jalan. Akhirnya selama perjalanan itu, kubiarkan Sali beristirahat. Mendengarkan mp3 dan tertidur pulas di kursi sebelah jendela.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s