A Korean Family in Indonesia

Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. My Korean homestay family datang khusus untuk berlibur di Indonesia karena tertarik dan ingin tahu lebih dalam tentang negara ini. Keluarga ini terdiri dari 4 orang: sang ayah, ibu (aku biasanya memanggil kedua orang ini dengan sebutan jibsanim), dan 2 orang anaknya, Somin dan Wongyun. Somin itu kakak perempuan, sudah berumur 7 tahun, sementara Wongyun (adik, laki-laki) masih berumur 5 tahun. Sejak bulan kemarin, aku sudah disibukan dengan urusan ini. Mengurus tour, hotel, pembayaran alias DP ini itu yang membutuhkan biaya telpon yang cukup besar untuk bolak balik telepon ke Indo.

Pesawat pukul 8 malam. Aku, papa dan seorang teman, Sali sudah siap menunggu di airport. Setengah jam berlalu dan orang yang ditunggu-tunggu masih belum kelihatan batang hidungnya. Aku dan Sali pun sibuk membayangkan bagaimana rupa mereka saat mereka keluar dari pintu kedatangan itu. “Mungkin anaknya digendong kali ya. Uda malem, pasti mereka cape.” “Somin mungkin bangun, tapi kayanya Wongyun sih tidur.” Kita berdua masih asik berimaginasi, tiba-tiba kita melihat sang ayah melambai-lambaikan tangannya kepada kami. Kaget dan merasa sedikit malu karena kami bahkan tidak mengenali sosok mereka duluan, kami pun menyambut mereka.

Barang-barang mereka dibawakan oleh seorang porter bandara. 1 koper sedang dan 1 tas kabin. Cukup simple untuk ukuran 1 keluarga yang travel keluar negeri. Mereka memberikan tip untuk porter itu, tetapi sang porter meminta 3x lipat lebih banyak, padahal sebenarnya dia cuma membantu membawakan barang dari dalam keluar, bahkan ga nyampe 10 menit kayanya. Sang porter tetep ngotot meminta lebih sedangkan sang tamu tidak punya uang kecil lagi. Akhirnya papaku memberikan porter itu sedikit uang tambahan. Sang porter masih aja ga terima dan dia bahkan sampai mengeluarkan sumpah serapah. Ckck. Aku dan Sali berpisah disini, dan kami akan bertemu kembali besok di gereja Korea.

Aku dan papa pun mengantar sang tamu ke hotel. Sesampainya di hotel, sang anak merengek ingin makan snack setelah melihat snack bar yang tersedia di dalam kamar. Akhirnya kami pun bergegas ke supermarket terdekat. Di supermarket, mereka terlihat biasa-biasa saja ketika melihat barang-barang impor Korea maupun barang-barang Indonesia. Tapi saat kami sampai di bagian buah-buahan, mereka pun langsung terlihat excited saat melihat begitu banyaknya buah-buahan yang dijual. Durian, belimbing, mangga, dragon fruit, pepaya, salak dan buah-buahan tropis lainnya. Mereka senang sekali sampai-sampai sang ibu pun mengeluarkan kamera dan mulai mengambil foto-foto dari buah-buahan tersebut. Lalu mereka membeli buah-buahan itu dalam porsi kecil karena mereka ingin coba. Haha.

Kembali ke hotel. Papaku memberikan mereka angklung, alat musik tradisional Indonesia yang udah pasti ga ada di Korea. Aku mengajari mereka cara memasang dan cara memainkannya. Ayo tebak apa yang terjadi setelah itu.. Mereka pun asyik memainkan angklung. “Suaranya bagus dan gampang buat dimainin” begitu kata sang ibu. Hari itu pun berakhir diiringi oleh suara angklung yang masih berbunyi dari kamar hotel tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s